PENCULIKAN bayi di rumah sakit atau pusat kesehatan masyarakat, pencabulan anak-anak jalanan bahkan sampai pada pembunuhan, serta kerap terjadinya perbuatan bunuh diri di pusat-pusat keramaian, akhir-akhir ini mewarnai negeri ini. Fenomena apa ini? Apakah itu pertanda bahwa kejahatan sudah tidak terkendali, karena masyarakat dan pemerintah tak peduli terhadap rasa aman dan nyaman, karena impitan ekonomi, atau karena makin banyak masyarakat yang kehilangan jati diri, mengalami tekanan mental.
Seharusnya berbagai musibah terkait masalah (bencana) sosial tersebut mengusik kita semua, terlebih pihak pemerintah. Penculikan bayi tak boleh dibiarkan terus terjadi. Begitu juga pencabulan, kekerasan, pembunuhan terhadap anak-anak jalanan tak boleh terulang, dan kasus-kasus bunuh diri--apa pun alasannya--harus ditekan. Semua keinginan itu tentunya baru bisa tercapai apabila ada perhatian dan aksi dari pemerintah yang didukung masyarakat.
Agar nasib anak-anak yang menggelandang di jalan-jalan tak terus menjadi sasaran pencabulan, korban tindak kekerasan, bahkan pembunuhan, maka mereka harus dilindungi. Itu artinya pemerintah, khususnya Kementerian Sosial harus memberi perlindungan secara maksimal. Kita menyadari pemerintah terkendala berbagai hal, terutama dana. Namun, itu tidak boleh dijadikan sebagai alasan pembiaran. Kementerian (Departemen) Sosial harus mencari jalan agar masalah yang muncul bisa ditekan.
Begitu pula dengan kasus penculikan anak-anak, bahkan akhir-akhir ini kerap dilakukan terhadap bayi-bayi yang baru lahir, jelas tidak boleh didiamkan. Karena peristiwa itu sering terjadi di rumah sakit, puskesmas, dan tempat-tempat pelayanan kesehatan masyarakat lainnya, maka Kementerian Kesehatan harus bertanggung jawab. Begitu juga dengan pemerintahan provinsi, daerah/kota, yang mengelola berbagai pusat pelayanan masyarakat.
Kasus bunuh diri di berbagai pusat keramaian di Jakarta dan di beberapa kota lainnya--jelas tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada korban, dengan alasan tidak memiliki mental baik, mudah putus asa, tak dibekali agama, dan lainnya. Keputusasaan yang dialami korban bunuh diri sangat berhubungan dengan kondisi di mana mereka berada, yakni di Indonesia. Buruknya kondisi perekonomian, tidak adanya jaminan kesehatan, kehilangan pekerjaan, impitan kebutuhan menjadi alasan yang kerap dikedepankan. Dan semua itu erat kaitannya dengan kinerja pemerintah.
Karena itu, tidak sepantasnya pemerintah lepas tangan terhadap berbagai bencana sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Jangan biarkan bencana sosial terus mengancam. Sangat tidak wajar, pemerintah justru menyalahkan orangtua yang kehilangan anak atau bayi karena ini erat kaitannya dengan keamanan, baik di rumah sakit maupun di tempat-tempat publik.
Sangat tidak wajar pula pemerintah tak peduli atas nasib anak-anak jalanan, karena mereka menjadi tanggung jawab negara. Begitu juga terhadap kasus bunuh diri, pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan mental bangsanya. Pemerintah harus kerja ekstra dalam upaya mengatasi bencana sosial yang marak akhir-akhir ini, termasuk berupaya menghimpun dukungan masyarakat. Ketersediaan dana, kepedulian, masalah keamanan, perbaikan nasib/perekonomian rakyat merupakan beberapa kunci untuk mengatasi masalah sosial tersebut.***
Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=244362
Seharusnya berbagai musibah terkait masalah (bencana) sosial tersebut mengusik kita semua, terlebih pihak pemerintah. Penculikan bayi tak boleh dibiarkan terus terjadi. Begitu juga pencabulan, kekerasan, pembunuhan terhadap anak-anak jalanan tak boleh terulang, dan kasus-kasus bunuh diri--apa pun alasannya--harus ditekan. Semua keinginan itu tentunya baru bisa tercapai apabila ada perhatian dan aksi dari pemerintah yang didukung masyarakat.
Agar nasib anak-anak yang menggelandang di jalan-jalan tak terus menjadi sasaran pencabulan, korban tindak kekerasan, bahkan pembunuhan, maka mereka harus dilindungi. Itu artinya pemerintah, khususnya Kementerian Sosial harus memberi perlindungan secara maksimal. Kita menyadari pemerintah terkendala berbagai hal, terutama dana. Namun, itu tidak boleh dijadikan sebagai alasan pembiaran. Kementerian (Departemen) Sosial harus mencari jalan agar masalah yang muncul bisa ditekan.
Begitu pula dengan kasus penculikan anak-anak, bahkan akhir-akhir ini kerap dilakukan terhadap bayi-bayi yang baru lahir, jelas tidak boleh didiamkan. Karena peristiwa itu sering terjadi di rumah sakit, puskesmas, dan tempat-tempat pelayanan kesehatan masyarakat lainnya, maka Kementerian Kesehatan harus bertanggung jawab. Begitu juga dengan pemerintahan provinsi, daerah/kota, yang mengelola berbagai pusat pelayanan masyarakat.
Kasus bunuh diri di berbagai pusat keramaian di Jakarta dan di beberapa kota lainnya--jelas tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada korban, dengan alasan tidak memiliki mental baik, mudah putus asa, tak dibekali agama, dan lainnya. Keputusasaan yang dialami korban bunuh diri sangat berhubungan dengan kondisi di mana mereka berada, yakni di Indonesia. Buruknya kondisi perekonomian, tidak adanya jaminan kesehatan, kehilangan pekerjaan, impitan kebutuhan menjadi alasan yang kerap dikedepankan. Dan semua itu erat kaitannya dengan kinerja pemerintah.
Karena itu, tidak sepantasnya pemerintah lepas tangan terhadap berbagai bencana sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Jangan biarkan bencana sosial terus mengancam. Sangat tidak wajar, pemerintah justru menyalahkan orangtua yang kehilangan anak atau bayi karena ini erat kaitannya dengan keamanan, baik di rumah sakit maupun di tempat-tempat publik.
Sangat tidak wajar pula pemerintah tak peduli atas nasib anak-anak jalanan, karena mereka menjadi tanggung jawab negara. Begitu juga terhadap kasus bunuh diri, pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan mental bangsanya. Pemerintah harus kerja ekstra dalam upaya mengatasi bencana sosial yang marak akhir-akhir ini, termasuk berupaya menghimpun dukungan masyarakat. Ketersediaan dana, kepedulian, masalah keamanan, perbaikan nasib/perekonomian rakyat merupakan beberapa kunci untuk mengatasi masalah sosial tersebut.***
Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=244362
Tidak ada komentar:
Posting Komentar